SUARA-BALIEM-PAPUA.COM – Alam Papua Pegunungan sedang memperlihatkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, hamparan lembah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, mengering akibat kemarau panjang yang belum juga berakhir. Di sisi lain, masyarakat di Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, harus menghadapi dampak hujan es yang menghancurkan kebun dan sumber pangan mereka.
Bagi masyarakat pegunungan tengah Papua, alam bukan sekadar pemandangan yang indah. Alam adalah dapur kehidupan. Dari tanah yang subur, masyarakat menanam petatas, sayuran, dan berbagai tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Karena itu, ketika alam berubah secara ekstrem, kehidupan masyarakat pun ikut terguncang.
Di Wamena, musim kemarau telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Langit cerah tanpa awan hampir setiap hari menghiasi kawasan Lembah Baliem. Sungai-sungai kecil yang biasanya mengalir deras kini mulai dangkal. Beberapa mata air yang menjadi sumber kebutuhan warga mengalami penurunan debit.
Bagi para petani, kemarau panjang menghadirkan kekhawatiran yang tidak sederhana. Mereka harus menjaga tanaman tetap hidup di tengah keterbatasan air. Sebagian memilih menunda masa tanam, sementara yang lain hanya bisa berharap hujan segera turun membasahi lahan pertanian mereka.
Di sejumlah kampung, perubahan itu terlihat jelas. Anak-anak yang biasanya bermain di sungai kini mendapati aliran air semakin mengecil. Batu-batu yang sebelumnya tertutup air tampak berserakan di permukaan. Aktivitas masyarakat perlahan menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang semakin kering.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat tetap berpegang pada nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur. Banyak yang percaya bahwa manusia harus menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Kepercayaan itu menjadi pegangan ketika menghadapi perubahan cuaca yang tidak menentu.
Namun, ratusan kilometer dari Wamena, penderitaan yang lebih berat sedang dialami warga Lembah Kuyawage, Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya.
Di wilayah yang berada pada ketinggian sekitar 2.834 meter di atas permukaan laut itu, kabut dingin menyelimuti pegunungan hampir setiap hari. Keindahan alam yang biasanya menjadi kebanggaan masyarakat kini berubah menjadi saksi bisu kesulitan yang mereka hadapi.
Selama hampir tiga bulan terakhir, masyarakat Kuyawage harus bertahan di tengah musim kemarau yang berkepanjangan. Saat mereka berharap hujan turun untuk menyelamatkan tanaman, yang datang justru hujan es.
Butiran es yang jatuh dari langit menghantam kebun-kebun warga. Tanaman petatas, sayuran, dan berbagai tanaman pangan lainnya rusak dalam waktu singkat. Hasil kebun yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat hancur tanpa tersisa.
Petatas yang menjadi makanan pokok masyarakat membusuk di dalam tanah. Daun-daun tanaman mengering dan tidak lagi mampu tumbuh. Lahan yang sebelumnya hijau berubah menjadi hamparan kebun yang rusak.
Bagi masyarakat Kuyawage, kehilangan kebun berarti kehilangan sumber pangan utama. Tidak ada lagi hasil panen yang dapat dipetik untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Persediaan makanan semakin menipis, sementara harapan untuk memulihkan kebun membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Meski demikian, warga tetap berusaha bertahan. Solidaritas antar-kampung menjadi kekuatan yang menjaga semangat mereka. Masyarakat saling membantu, berbagi apa yang masih dimiliki, dan berusaha melewati masa sulit secara bersama-sama.
Namun hingga kini, warga masih menantikan perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah. Di tengah kerusakan kebun dan ancaman kekurangan pangan, masyarakat berharap bantuan kemanusiaan segera disalurkan agar kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi.
Fenomena kemarau panjang di Jayawijaya dan hujan es yang merusak kebun di Lanny Jaya menjadi gambaran nyata tentang kerasnya kehidupan di wilayah pegunungan Papua. Dalam satu kawasan yang sama, masyarakat menghadapi tantangan alam yang berbeda, tetapi memiliki dampak yang sama: mengancam kehidupan dan penghidupan warga.
Di balik segala kesulitan itu, masyarakat Papua Pegunungan tetap menunjukkan keteguhan hati. Mereka terus bertahan, menjaga harapan, dan menunggu masa ketika alam kembali bersahabat.
Sebab bagi masyarakat pegunungan, alam bukan hanya tempat tinggal. Alam adalah sumber kehidupan, warisan leluhur, sekaligus ruang di mana harapan terus tumbuh meski diterpa berbagai ujian.(*)
Oleh: A.H

